Yoona’s POV

Mataku terbuka di saat aku merasakan guncangan pada tubuhku, saat aku menoleh pada pelaku, ternyata Yuri eonnie. Aneh. Biasanya setiap pagi dia akan meneriakkan namaku atau hal-hal heboh lainnya untuk membangunkanku. Tapi kali ini dia hanya mengguncangku dan tersenyum, lalu pergi keluar dari kamarku. Aku sesegera mungkin mengganti piyamaku ke seragam sekolah untuk menyusul Yuri eonnie yang sedang duduk dan sarapan. Kulihat eomma tidak ada bersamanya, mungkin ia sudah berangkat.

“Eonnie, ada apa? Apa yang ter-”

“Cepat sarapan, Yoong, nanti kau terlambat menaiki bus.”

Tingkah anehnya tidak lagi bisa kuragukan, Yuri eonnie tidak akan pernah berlaku seperti ini padaku kecuali setelah kami bertengkar atau aku membuatnya marah. Aku hendak membuka mulutku untuk bertanya ‘mengapa’. Tapi niatku kupungkiri karena, jika bertanya saat ini juga, justru ia akan semakin mendiamkanku. Aku memutuskan untuk menurutinya dengan duduk dan ikut memakan sarapanku. Atmosfer kami saat ini benar-benar persis ketika pagi setelah kami menyaksikan eomma dan appa bertengkar pada malam bertahun-tahun lalu. Jika begitu, apa ini tentang eomma dan appa? Bukankah eonnie bilang padaku mereka sudah menyelesaikan semuanya ketika aku koma?

“Aku berangkat, Yoong, kau hati-hati.”

Yuri eonnie berdiri dari kursi makannya dan meninggalkanku dari ruang makan sendiri. Aku menyadari ia hampir tidak sarapan karena roti di piringnya hanya berbekas satu gigitan kecil. Melihatnya seperti ini untuk sebentar saja aku tak tahan, aku mengambil jaket yang biasa ia kenakan saat mengendarai motornya dan memberikannya kepadanya agar bisa menjadi alasan untuk menghampirinya.

“Eonnie…”

Dia menoleh padaku dengan wajahnya yang hampir-hampir membuatku ingin menangis. Sepertinya ia tidak tidur semalam, area kantung matanya begitu besar dan menghitam. Dan aku bisa menebak dia seperti sehabis menangis semalaman. Otakku berdebat sesaat untuk memutuskan haruskah aku bertanya tentang penyebab kegundahannya atau tidak. Saat rasanya air mata memenuhi kelopak bawah mataku, mereka tak terjatuh karena Yuri eonnie menyambut jaketnya yang kugenggam dan memberiku kecupan di dahi.

“Aku tidak marah padamu, Yoong, aku sayang padamu… Hati-hati di jalan, aku juga akan hati-hati.”

Senyuman terakhirnya sebelum ia membalikkan tubuhnya dan pergi menjauh dariku justru membuatku semakin gusar walau aku sedikit merasa lega karena ia tetap menjaga rasa sayangnya padaku.

Jessica’s POV

Kediamannya hari ini menjawabku. Kwon Yuri telah merubah dunianya yang semula penuh oleh diriku. Menghancurkannya, dan menumpahkan tinta hitam ke seluruh permukaannya agar ia buta. Rasanya baru kemarin ia bertingkah iseng seperti biasanya padaku ketika aku dibonceng olehnya dengan motornya. Mempercepat laju motornya, melepaskan satu tangannya dari kendali motornya, atau bahkan berbelok secara tiba-tiba agar aku memeluknya semakin erat. Namun aku mengerti apa yang ia inginkan dibalik semua tingkahnya itu, aku pun memakluminya karena aku juga memiliki keinginan yang sama dengannya; agar kami merasa tak terpisahkan apa pun yang terjadi. Walaupun kami akan berada dalam bahaya karena keisengannya, tapi kami tetap saling berpegangan dan melewati bahayanya bersama.

“Yuri-ah…”

Dia menggenggam tanganku saat kami keluar dari lapangan parkir sekolah, namun aku seakan tak nyata baginya. Dia tidak menganggapku ada, namun ia tidak ingin melepaskanku, seakan aku hanya khayalannya.

“Yuri…”

Kali kedua aku memanggil namanya saat kami berjalan di lorong sekolah, namun ia tetap berlagak tuli. Tapi saat aku mulai menyuarakan isak tangisku yang tak tertahan, dia menghentikan langkah kami dan menarikku ke dalam ruang penyimpanan dan mengunci pintunya. Ruangan ini begitu kecil sehingga aku terdesak oleh tubuhnya. Aku ingin meronta, namun ia justru menghentikanku dengan memaksakan bibirnya untuk menyentuh milikku. Dia semakin memperdalam ciumannya dan menyuduti tubuhku dengan temboknya. Karena ruangannya yang kecil dan jarak di antara kami yang sempit ditambah dengan sumpalan bibirnya padaku, oksigen semakin sulit untuk kudapat. Aku mulai memberontak dengan memukul-mukul dadanya, namun dia tak bergerak sedikit pun. Suara-suara yang berusaha kukeluarkan pun hanya berupa desahan-desahan pelan karena tubuhku semakin melemas.

“… Yuri…”

“… Aku mencintaimu, Jung Sooyeon… Maafkan aku… Terima kasih… Selamat tinggal.”

Kata-kata darinya membuatku semakin tak bisa bernafas; membuatku kehilangan kesadaranku.

Author’s POV

“Eonnie!”

Yoona mengitari area sekolah dan dengan teliti memperhatikan sekelilingnya. Dia mencari Yuri, karena sejak ia tiba di sekolah hingga jam pulang sekolah, Yuri sama sekali tak tampak di pandangannya. Tidak juga Jessica. Berkali-kali Yoona menghampiri kelas Yuri dan Jessica untuk bertanya apakah mereka sudah datang atau belum ke dalam kelas setiap kali mendapat kesempatan untuk keluar dari kelas. Namun bahkan tak satu pun dari mereka mengaku melihat Yuri atau pun Jessica datang ke sekolah. Yoona tak henti-hentinya mencoba menghubungi Yuri, namun telfon selulernya tidak aktif, sama dengan Jessica. Dia sempat menganggap mungkin Yuri dan Jessica pergi ke suatu tempat bersama dan tak ingin seorang pun tau kemana mereka pergi. Namun anggapan itu terbantah karena Yoona menemukan motor milik Yuri terparkir di lapangan parkir sekolah.

“Yoona… Sooyoung eonnie & Hyoyeon eonnie sudah mencari mereka ke tempat yang mungkin mereka bisa kunjungi tanpa perlu menaiki kendaraan, tapi mereka sama sekali tidak di sana…”

“Eonnie… Kenapa harus di saat seperti ini…”

Yoona menghela nafas panjang karena dia tidak diberikan pilihan lain selain menyerah untuk menemukan kakaknya itu. Seohyun yang memberitaukannya akan harapannya yang terakhir sirna, merasa tak enak dan membantu Yoona terduduk di kursi dekat lapangan belakang sekolah. Yoona sudah tak terpikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini untuk bertemu dengan kakaknya selain menunggunya pulang di rumah. Tapi baginya saat ini itu sama sekali bukan pilihan karena senyuman Yuri pagi tadi masih sangat membekas di dirinya. Sesuatu mengganggu Yuri dan dia ingin menyingkirikan gangguan itu. Melihat Yoona yang begitu terpuruk, putus asa dan khawatir, Seohyun bisa mengerti betapa Yoona menyayangi kakak kembarnya. Dan dari perkataan Yoona, Seohyun menyimpulkan ada sesuatu yang menambah kekhawatirannya pada kakaknya.

“Aku adik yang buruk, Hyunnie…”

Di telinga Seohyun, suara Yoona terdengar pecah, seakan ia hendak menangis. Dan ketika ia menoleh pada Yoona, Yoona memang sudah meneteskan beberapa tetes air matanya.

“Hari itu… Orang tua kami bertengkar hebat… Kami menyaksikannya bersama, kami diliputi ketakutan, namun kami berusaha untuk tetap kuat dengan tetap bersama… Namun setelahnya aku justru meninggalkannya, dia harus melewati kejadian yang membuat kami ketakutan itu sendirian… Dan tak mungkin hanya kejadian itu saja yang menakutinya selama setahun aku tak bersamanya… Belum lagi saat itu aku berada di antara kematian dan kehidupan… Sekarang… Sejak aku terbangun dia sama sekali tak berani memberitauku kegundahannya, dia menutup dirinya dariku, hanya tersenyum dan tertawa bersamaku… Dia membenciku…”

“Yoon-”

“Pagi tadi dia berkata dia menyayangiku dengan sebuah senyuman… Tapi dia terlihat tersiksa… Apa ia begitu karena ia harus menghadapi fakta bahwa ia kini membenciku?”

“Yoona.”

Seohyun memegangi kedua sisi pipi Yoona dan memalingkan wajah penuh air matanya untuk menatap padanya. Mereka kembali bertatapan, dan perasaan familiar mereka terhadap satu sama lain pun ikut kembali. Seohyun menyimpan penasarannya akan perasaan itu untuk nanti dan berusaha fokus untuk menenangkan Yoona.

“Yuri eonnie tidak mungkin membencimu, dia sangat menyayangimu, aku tidak bisa memastikan kebenarannya, tapi, ada sesuatu yang menyangkut dengan dirimu yang tidak bisa ia ungkapkan padamu saat ini. Maka dari itu ia memilih untuk menjauhimu, ia takut jika bersamamu justru ia tidak bisa menjadi tegar di saat ia harus melindungimu dari sesuatu hal itu. Karena koma yang kau alami, ia memutuskan untuk menjadi lebih tegar dari sebelumnya agar ia bisa melindungimu, bukan merasa ketakutan bersamamu.”

Yoona terdiam menyimak perkataan Seohyun dan menatapnya dengan tulus karena Seohyun mengerti bagaimana caranya untuk menenangkan dirinya. Menyadari tatapan Yoona, Seohyun menarik kembali kedua tangannya ke sisinya dan tidak bisa memungkiri kalau ia merasa tak karuan. Yoona tersenyum karena dia akhirnya merasa lapang dan hangat di dalam hatinya; itu semua karena Seohyun.

“…Hyunnie.”

Terbawa suasana hatinya atau tidak, Yoona sadar akan yang ia lakukan karena ini penuh arti baginya. Setelah Seohyun menorehkan kembali tatapannya padanya, Yoona mengecup bibir Seohyun. Yoona, Yoona yang menguasai dirinya dengan sepenuhnya, mencium Seohyun.

Yuri melihat segalanya. Yuri melihat dan mengerti segalanya. Yoona, adik kembarnya yang belum pernah merasakan kecintaan kepada orang lain selain dirinya dan ibu mereka mencium Seohyun. Tindakan yang sudah pasti merujuk pada suatu perasaan yang Yuri rasakan pada Jessica dilakukan oleh Yoona pada Seohyun. Yoona mencintai Seohyun, dan Yuri sangat yakin itu adalah Yoona, bukan Taeyeon yang berada dalam tubuh Yoona. Yuri tidak mengerti situasi seperti apa yang sedang ia lewati. Karena kejadian ini akan memunculkan cinta di antara Yoona & Seohyun dan membuat Taeyeon semakin sulit untuk mencapai tujuannya. Jika Taeyeon tak akan mencapai tujuannya, ia tidak akan bisa meninggalkan tubuh Yoona, artinya Yoona akan mati. Yoona akan mati. Dan Tiffany tak akan pernah tau perasaan yang dimiliki Taeyeon untuknya. Tentu itu akan membuat Tiffany tidak berhenti mencintai Yuri, karena ia tidak perlu menunggu Taeyeon, sejak awal memang ia tabu akan hal ini. Yuri, Yuri mulai ragu akan kesetiaannya pada orang yang ia cintai, Jessica. Ragu dan semakin ragu.

Seohyun’s POV

Karena Yoona sepertinya sudah tenang, saat ini kami berjalan pulang bersama. Di jalan yang sama ketika kami pulang dari pertokoan roti & kue yang kami kunjungi bersama kemarin. Baik Yoona mau pun diriku sama sekali tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun setelah kejadian di halaman belakang sekolah tadi. Aku masih tidak mempercayai ingatanku sendiri atas hal yang terjadi pada kami. Yoona menciumku. Dan tanpa paksaan sedikit pun. Mengapa ia melakukannya, aku tak sanggup untuk memikirkan kemungkinan alasannya karena itu tabu bagiku. Dadaku sejak tadi terus saja berdegup kencang membuatku sama sekali tak berani untuk bahkan melihat seujung jarinya. Perhatianku teralihkan karena aku tak hentinya mengingat kejadian tadi dan menyebabkan aku melewati belokan menuju rumahku.

“A-aku kelewatan, Y-Yoona, sampai sini saja, terima kasih sudah mengantarku.”

Aku membungkuk padanya masih tak berani menatapnya dan ia membalas bungkuk padaku.

“Aku juga sampai lupa bertanya kau tinggal dimana, untunglah kau tinggal dekat dengan rumahku, sampai jumpa, Hyunnie!”

Yoona akhirnya berhasil membuatku berani menatap wajahnya dan wajah itu penuh dengan kesenangan.

Teralih kembali dari kesadarannya karena raut wajah orang yang ia cintai begitu mempengaruhinya, Seohyun hampir tidak memperhatikan perkataan Yoona. Beberapa langkah setelah mereka semakin menjauhi satu sama lain, Seohyun kembali ke dirinya dan mulai memeriksa kembali ucapan ‘sampai jumpa’ dari Yoona. Kemarin ini, ketika Yoona mengantarnya pulang, Yoona seperti tau dimana ia tinggal. Tapi berbeda dengan sampai jumpa dari Yoona hari ini, Yoona berkata seperti ia tidak tau dimana Seohyun tinggal. Dan kemungkinannya sangat sempit untuk mengatakan Yoona lupa arah menuju rumah Seohyun, karena Yoona bertanya, tidak berkata ia lupa.

Eeeh, sesuai polling, ini dia hasilnya, selamat menikmati!!! >,< terima kasih banyak atas partisipasinya sampai sejauh ini!!! mari kita lanjut FF lama sampai tamaaaat!!!!

 

 

Author’s  POV

 

 

“Strike three! Batter’s out!”

Yoona tersenyum nakal dan menatap lurus pada batter di depannya, Sunny. Mendengar pernyataan dari wasit di belakangnya, Sunny menatap balik pitcher yang menyeringai kepadanya dengan penuh dendam.

“Nice, Yoong! Hari ini juga pitching mu bagus!”

Yuri berlari dari basenya menghampiri adik kembarnya dan langsung saja merangkul bahunya. Sementara sang ketua tim yang duduk di bangku pemain emosinya meninggi karena kekalahan timnya.

“Yah! Pendek! Bisa main yang benar tidak sih?!”

Sooyoung yang tak mampu menahan emosinya mendatangi sang batter untuk memprotesnya.

“Bukan salahku, giant! Tim ini pemain-pemainnya terlalu tinggi! Aku tidak sampai!”

“Yah, itu bukan alasan kau tidak bisa memukulnya! Lagipula kau saja yang terlalu pendek!”

Sementara sang batter dan sang ketua tim terus berargumen di tengah lapangan, pemain lainnya sama sekali tidak menghiraukan mereka dan kembali ke bangku pemain di mana mereka menaruh barang-barang mereka. Tiffany sebagai manager tim sedari tadi menunggu sambil memperhatikan mereka bermain di bangku pemain. Dia menghampiri mereka satu persatu dan memberikan mereka sebotol air minum.

“Kalian bermain dengan baik hari ini! Terutama kau, Yoona!”

Tiffany menoleh pada Yoona dan memberikannya eye-smile seperti biasa.

“Hehehe, aku mencoba sebisaku supaya aku gak kalah jauh dari Yuri eonnie!”

Mereka berdua tetap melanjutkan obrolan mereka tanpa menyadari sebenarnya dua dari pemain tim sedang menatap mereka dengan pemikiran yang jauh berbeda. Salah satu dari dua pemain itu adalah Yuri yang memperhatikan pendekatan Taeyeon melalui Yoona kepada Tiffany. Sudah seminggu berlalu sejak Yoona mulai bersekolah kembali, namun Yuri sama sekali belum melihat ada pergerakan dari Taeyeon. Bukankah seharusnya dia mengatakannya pada Tiffany secepat mungkin? Mengapa dia mengulur waktu seperti ini? Apakah dia telah terlena oleh waktu yang dapat dihabiskannya bersama Tiffany selama dia berada  di dalam tubuh adiknya? Yuri sama sekali tidak mengerti pemikiran Taeyeon, namun ia juga tidak ingin pertanyaan-pertanyaan itu teronggok tanpa jawaban begitu saja. Pada akhirnya, dengan berat hati Yuri memutuskan untuk bertanya pada ‘hantu’ itu sepulangnya nanti. Hingga saat ini, entah mengapa ia sama sekali tidak menyukai ‘hantu’ itu.

 

 

Di sisi lain bagian bangku pemain, pemain kedua yang menatap tajam pada Yoona dan Tiffany adalah Seohyun. Akhir-akhir ini entah sejak kapan mereka terlihat semakin dekat walau pun baru saling mengenal satu sama lain. Hal aneh lainnya adalah hampir sama sekali tidak ada keganjalan yang terlihat ketika mereka berdua bersama, layaknya melihat teman lama yang kembali bertemu. Dan menurut Seohyun yang paling aneh adalah, dia merasa tertekan dan sulit bernafas setiap kali mereka tertawa bersama dan terlihat sangat serasi di mata Seohyun. Seohyun mengira-ngira mungkin ada yang salah dengan tubuhnya, namun reaksi itu hanya terjadi ketika ia melihat Yoona dan Tiffany bersama, maka hampir tidak mungkin bahwa itu adalah suatu penyakit. Berkali-kali dia bertanya pada dirinya sendiri tentang yang ia rasakan, tetapi ia tetap tak mendapat sepatah kata pun untuk diuntai sebagai sebuah jawaban. Dia bahkan mulai bertanya-tanya haruskah dia bertanya pada orang lain? Tapi pertanyaan itu kembali tertunda dikarenakan sebuah tepukan di bahu membangunkannya dari lamunannya.

“Hyunnie, ayo pulang.”

Seohyun menatap pada pemilik suara yang tersenyum lebar padanya itu. Hanya sekedar senyuman biasa cukup membuat Seohyun terbuai untuk terus menatapnya. Apa ini? Hal apa dari Yoona yang membuat senyumannya terlihat begitu memukau bagi Seohyun? Apa karena wajahnya memang cantik? Atau apa?

“Yah, Seohyun-ah~ ayooo!”

Yoona meraih tangannya untuk membantunya berdiri, kemudian dia mengangkat tas milik Seohyun dan menyerahkannya padanya. Yoona kembali tersenyum kepadanya dan menggenggam tangannya dengan erat, setengah menariknya untuk berjalan. Seohyun hanya bisa mengikuti tarikan Yoona karena dia merasa jiwanya sudah terbang melayang keluar dari tubuhnya.

 

 

Tak jauh dari kawasan sekolah mereka, Yuri dan Jessica menghentikan perjalanan pulang mereka di sebuah taman dan duduk bersama di sebuah kursi sambil berbagi permen kapas yang Yuri belikan. Mereka tetap bersikap mesra dengan menyuapi robekan permen kapas kepada satu sama lain, namun mereka sama sekali tak bertukar ucap sama sekali. Sebenarnya mereka berada di sini sesuai permintaan Jessica, karena ada satu hal ini yang benar-benar harus ia rundingkan dengan kekasihnya itu. Tanpa berucap sepatah kata pun tiba-tiba Yuri pergi dan kembali dengan sebuah permen kapas yang besar di tangannya. Seperti inilah mereka saat ini, memenuhi bibir satu sama lain dengan permen kapas, sehingga tak ada satu pun dari mereka sanggup berbicara. Selain permen kapas, ada satu hal lagi yang menghalangi Jessica untuk mulai berbicara, genggaman erat tangan Yuri pada tangannya yang menganggur. Dia terbiasa pada genggaman tangan Yuri, seerat apa pun itu, namun kali ini berbeda, di balik genggaman tangannya ia tau sepertinya Yuri tau apa yang hendak dikatakannya. Dan juga, makna di balik permen kapas yang tiba-tiba dibeli oleh Yuri untuk mereka makan.

“Yuri…”

Tapi pada akhirnya ia berhasil menyuarakan panggilannya kepada Yuri yang tepat berada di sebelahnya. Yuri menghentikan permen kapas yang ada di tangannya di tengah jalan ke mulut Jessica ketika mendengar namanya dipanggil. Genggaman tangannya pada tangan Jessica pun semakin erat, entah ia sadar akan pergerakannya itu atau tidak.

“…Ya?”

Seakan seorang narapidana yang hendak ditanyakan atas perbuatannya, Yuri merasa tegang dan menelan janggalan yang tak nyata di tenggorokannya.

“Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?”

Layaknya kehilangan kemampuan berbicaranya, Yuri hanya bisa terdiam dan tetap menatap lurus pada pandangan di depannya. Genggamannya pun semakin erat karena pertanyaan mudah namun sulit dari Jessica tepat mengenainya.

“…Sakit…”

Mendengar eluhan dari Jessica, ia langsung menoleh padanya dan menyaksikan wajah tersiksanya. Menyadari apa yang ia lakukan, Yuri melepaskan genggaman eratnya pada tangan Jessica perlahan dan memeluk kekasihnya dengan erat.

“Maaf… Maafkan aku… Kumohon maafkan aku…”

Mereka berdua tau apa yang sebenarnya dieluhkan Jessica, mereka pun tau apa yang hendak dibicarakan oleh Jessica. Namun mereka pun tau sebenarnya mereka sama sekali tak ingin mengetahuinya karena tidak satu pun dari mereka ingin melepaskan diri dari satu sama lain.

 

 

Di sampingnya, Yoona sedang berjalan dengan sepotong roti di mulutnya. Tak ia sangka, ajakan Yoona untuk pulang berarti lain. Sebelum mereka menaiki bus untuk pulang, Yoona mengajaknya untuk makan cemilan bersama. Mereka berjalan kesana kemari mencari-cari camilan demi camilan, lebih tepatnya Yoona memaksa Seohyun untuk mencari bersama.

“Sooyoung eonnie yang merekomendasikanku untuk pergi ke sana, tapi aku belum sempat hingga hari ini, tadinya aku ingin pergi sendiri, tapi begitu melihatmu aku jadi ingin pergi bersamamu, Hyunnie~ terima kasih sudah menemaniku~”

Yoona berbicara kepada Seohyun sesudah menelan potongan roti yang tadinya setengah masuk ke dalam bibirnya.

“Aku yang harusnya berterima kasih, Yoona, sepanjang jalan tadi kau terus membelikanku macam-macam makanan, padahal kau tidak perlu melakukannya…”

Yoona tertawa kecil pada kebiasaan formal Seohyun, selama seminggu dia menjadi teman sekelas, teman sebangku dan teman seklubnya tak pernah sekali pun ia mendengar Seohyun berbicara tanpa formalitas.

“Yah, itu tak seberapa dibandingkan saat aku harus mentraktir Sooyoung eonnie karena dia berhasil memukul home-run lemparanku 3 hari yang lalu. Dan lagi, kau dan aku seumuran~ singkirkan formalitasnya~ jangan terlalu kaku begitu~”

“Bukan begitu… Aku-”

“Hey, Seohyun-ah, rumahmu belok sini kan? Sampai bertemu di sekolah besok~”

Langkah kaki mereka berhenti begitu mereka sampai di sebuah persimpangan jalan. Seohyun menghentikan langkahnya bukan karena ia menyadari dia sudah dekat pada rumahnya, tapi karena pertanyaan Yoona. ‘rumahmu belok sini kan?’ Bagaimana Yoona bisa tau? Selama seminggu ini mereka sama sekali belum pernah pulang bersama, ini yang pertama kalinya. Sekarang barulah Seohyun menyadari, Yoona sepertinya tidak tau dimana ia tinggal, tapi ia mengajaknya pulang bersama karena ia berkata rumah mereka searah. Apa Yoona mencari tau tentang dimana ia tinggal? Tidak mungkin… kan? Seohyun menatap penasaran pada punggung Yoona yang sudah berjalan agak jauh darinya.

 

 

Taeyeon’s POV

 

 

“Aku sudah menunggumu.”

Aku memanggilnya begitu dia pulang dan melewatiku yang terduduk di sofa. Kulihat dia menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menghadapku. Dia menatapku dengan agak geram dan mata yang memerah.

“Aku pun mencarimu. Apa maksudmu dengan sengaja mendekatkan Yoona pada Tiffany? Sudah seminggu berlalu sejak kau merasuki Yoona dan kau sama sekali belum mengatakan apa pun padanya. Apa yang kau pikirkan Taeyeon? Berapa lama lagi kau akan merasuki tubuh adikku?”

Dia semakin mendekatiku seiring dengan menumpuknya pertanyaannya padaku. Bisa kulihat sepertinya dia sedang depresi akan satu hal karena semakin dekat aku melihat wajahnya semakin jelas aku bisa membacanya.

“Tenanglah dulu, aku baru akan mengatakan semua hal itu padamu, tapi apa yang terjadi? Katakan dulu masalahmu sebelum aku memulai menjelaskan rencanaku.”

“Rencana? Rencana apalagi? Kau hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya kan? Menggunakan tubuh adikku dan lama kelamaan kau bisa menguasai tubuhnya agar kau bisa hidup kembali dan menyingkirkan adikku dari dunia ini! Dan masalah apa pun yang kuhadapi, itu sama sekali bukan urusanmu! Cepat selesaikan permintaan terakhirmu dan-”

Mendengar semua bentakkan yang keluar dari mulutnya tanpa sengaja aku mengalirkan air mataku tepat di depan wajahnya. Dia menghentikan bentakkannya padaku dan mengalihkan pandangannya dariku dan menggumamkan kata ‘maaf’ sebelum terduduk tenang pada sofa di belakangnya. Aku menghapus air mataku dan merapihkan wajahku kembali sebelum berbicara padanya. Tak apa bila dia mendendam padaku seperti ini, toh kegundahannya memang sebagian besar berasal dariku.

“… Jessica menyadarinya… Benar kan?”

Aku asal menebak saja tentang kemungkinan apa yang baru saja terjadi padanya, aku melihat dia duduk dengan tidak tenang setelah aku bertanya. Ternyata tebakanku benar.

“Kalau benar begitu… Alasanku untuk menjalankan rencana ini menjadi lebih banyak… Dengar, aku ingin melupakan tujuanku menyatakan cintaku padanya.”

Yuri membuka matanya lebar-lebar dan menatapku dengan penuh keheranan. Aku melanjutkan penjelasanku padanya sebelum dia sempat memprotes.

“Tapi aku ingin membuat Tiffany berdalih pada adikmu agar ia bisa melupakanku dan juga dirimu, dengan itu, aku bisa meninggalkannya tanpa perlu khawatir siapa yang akan menjaganya, dan kau bisa tenang tanpa harus berkelut dengan Jessica.”

Yuri segera menghampiriku dan menyambut kerah seragamku, sudah kuduga dia akan begini.

“Yah, apa yang kau pikirkan, Kim Taeyeon?! Itu jauh dari tujuan awalmu dan kau tidak hanya meminjam tubuh adikku! Tapi juga memaksanya jatuh cinta pada orang yang belum terlalu ia kenal!”

“Memangnya kau pikir kau cukup mengenal Jessica? Aku terus berada di samping Tiffany, aku tau persis bagaimana sejarah kalian, pada dasarnya kalian juga tidak terlalu mengenal satu sama lain-”

“Tapi ini berbeda!”

“Kalau begitu katakan perbedaannya. Lagipula aku tau kau juga tidak terlalu yakin Tiffany akan baik-baik saja setelah aku menyatakan cintaku padanya dan pergi. Aku tau kau pun memikirkan Tiffany. Karena itu, menurutku inilah yang terbaik.”

Genggaman tangan Yuri pada kerahku terlepas dan aku pun kembali terduduk. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak pasti, di satu sisi dia terlihat marah, namun di sisi lain aku bisa melihat dia membelas kasihan padaku.

“Kau tau Tiffany, kau tau kau bisa mempercayai Tiffany untuk membahagiakan adikmu, begitu pula sebaliknya. Cukup seperti itu saja. Aku pun bisa beristirahat dengan tenang karena aku juga percaya pada adikmu.”

Aku melanjutkan kata-kataku namun Yuri masih tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia justru pergi menjauh dariku menuju kamarnya dan membanting pintunya. Aku menutup mataku dan menghela nafas panjang, selagi melakukan pertukaran dengan Yoona, aku bisa mendengar sayup-sayup suara Yuri dari dalam kepalaku ‘Apa benar ini yang terbaik?’

Halo halo ;3 yang di bawah ini adalah beberapa kerjaan iseng~ ;3

Ini yang 2D~

Ini yang aslinya~

YulSic~

Yang ini ada hubungannya sama upcoming ff  :3

TaeNy~

Yang ini terinspirasi sama lagu ‘Time Machine’ :3

Ada beberapa lagi, tapi ngepostingnya malu~ hehe~ soalnya gak terlalu bagus~

GYAAAAAH

……..

*garuk-garuk kepala belom showeran*
*kucek-kucek mata masih belekan*

Hai!!

……..

Iya, iya, aku tau T____T ada 2 on-going yang udah lama hiatus dan sampe sekarang belom kegubris padahal authornya kepikiran cerita baru terussss TAT *curhat*

Sampe tadi malem, dengan segala hormat, JungLeydeh eonnie mentionan sama akyu~~~ merumpi tentang anak TaengSic, Shin YoonJo! X9 dan~ hasilnya… Keluarlah ide baru ff lainnya T____T

Ni-niatnya sih numpukin konflik itu ke ide baru ff ku yang lainnya u,u” tapi, datengnya ff baru bisa ngebikin ff yang lama makin lama makin kesingkir…. *maaf* m(_ _)m

Jadi, niatnya author curhat di sini mau nanya, Baiknya gimana yaaa?

Dibawah sini ada polling~ batas waktunya dua minggu dari sekarang~ sehabis itu, hasil polling bakal ada hasilnya di post-post baru di blog ini~ entah itu update-an ff lama atau mungkin ff baru~~

Yang mau baca curhatan ini, makasih banyak yaa!!!! >_______<"

Buat reader lama, makasih udah setia mau nunggu author yang lelet binti ngeselin ini T______T *kiss* *kiss* *hug* *hug*
Buat reader baru, selamat menikmatiiiii *kiss* *kiss*

HAPPY BELATED BIRTHDAY JUNG SOOYEON!!!
&
HAPPY BELATED COMEBACK AUTHOR FAI \^0^/ #pakpakpak

“SAENGIL CHUKHAEYO JESSICA JUNG SOOYEON!”

Semua sahabatnya menyerukan kalimat itu seraya saling membenturkan
gelas berisi champagne mereka masing-masing. Dari gelas yang
berbenturan itu keluar suara ‘KLANG’ dan setelahnya mereka meminum
konten dari gelas itu. Sebagai subjek dari hari ini, hari ulang
tahunnya ini, Jessica hanya bisa menghela nafas melihat teman-temannya
sukses membujuknya untuk membuat pesta ulang tahun dadakan di
apartemennya. Entah mereka benar-benar ingin merayakan ulang tahunnya
atau hanya ingin berpesta saja, sebenarnya Jessica cukup merasa senang
ketika teman-temannya datang berkumpul seperti ini.

“Ayo Soo!!! Habiskaaaan!!!”

“Whoa!!! Whoa!!! Yoong!! Balap dia!!”

…Atau mungkin tidak juga.

Ketika dia menoleh lagi kepada teman-temannya yang asyik berpesta,
tujuan pesta mereka benar-benar teralih dari ‘pesta ulang tahun’
menjadi ‘pesta meminum soju sebanyak-banyaknya’. Jessica kembali
menghela nafasnya dan menyambar satu kaleng soju sebelum semua soju
yang mereka beli habis terminum oleh duo food goddess. Sepertinya
perhatian mereka benar-benar teralih pada Sooyoung dan Yoona karena
tak satu pun dari mereka menyadari Jessica yang keluar menuju balkoni
dengan satu kaleng soju dan satu dus rokok. Ya, Jessica Jung merokok.
Entah sejak kapan dan mengapa, hingga saat ini dia masih saja
menghirup batang yang berisi nikotine itu. Dia membuka kaleng sojunya
dan menenggaknya sedikit seraya berjalan menuju rail di balkoninya,
untuk memandangi lampu-lampu kendaraan yang bercahaya di tengah
kegelapan malam. Dia bersandar pada rail itu sambil masih memandangi
pemandangannya. Tangannya menaruh kaleng soju di atas meja di
sampingnya dan membuka segel dus rokoknya untuk mengambil sebatang.
Ketika dia menaruh sisi untuk menghisapnya di ujung bibirnya, dia
ingat akan satu hal, pemantik.

“Aiiish!”

Dan saat baru saja hendak kembali ke dalam ruangan apartemennya, orang
yang paling ia harapkan untuk ada di ‘pesta paksaan’nya memasuki
balkoninya dengan sebuah pemantik yang menyala.

“Happy birthday to you~”

Orang itu bernyanyi dalam bahasa inggris namun tak menonjol
dikarenakan logat koreanya yang teramat kental. Jessica menatapnya
dengan sinis tetapi dengan sedikit kemerahan di pipinya. Entah ini
efek dari seteguk dari soju yang ia minum atau efek dari kedatangan
orang itu, yang jelas ia butuh api dari pemantik itu. Saat wanita
berambut hitam panjang dan berkulit kecoklatan itu mendekat pada
Jessica, Jessica memajukan rokoknya ke pemantik yang dipegang wanita
itu.

“Tidak, tidak, bukan rokoknya, kau harus tiup apinya.”

“Tapi aku butuh apinya.”

“Yah~ kau butuh apinya untuk membuat satu permintaan dan wush~ tiup
permintaan itu dan jadilah kenyataan~”

“Kwon Yuri.”

Jessica memanggil nama orang itu lengkap dengan nama marganya. Dan
setiap kali ia melakukan itu, artinya ia sedang tidak ingin
bermain-main atau pun dipermainkan. Benar saja, tatapan sinisnya
membuat Kwon Yuri gemetar dan mengeluarkan tawa renyahnya. Alih-alih
merasa terancam terhadap tatapan sinis kekasihnya, Yuri mematikan api
dari pemantik itu dan memasukannya ke dalam saku jas kerjanya. Dia
justru mendekap erat kekasih berambut kecoklatannya itu dan memberinya
beberapa kecupan di dahi.

“Selamat ulang tahun sayang, aku mencintaimu~ berapa umurmu sekarang?”

Walau wajahnya semakin memerah, tetapi Jessica masih mencoba untuk
tidak menggubris bahasa tubuhnya karena keinginannya akan pemantik di
saku jas Yuri lebih kuat.

“Y-yah… Pemantiknya…”

“Jawab dulu pertanyaanku~ berapa umurmu sekarang, Sica Baby~?”

“Duapuluhempat. Sekarang pemantiknya!”

“Apa? Aku tidak bisa mendengar jawabanmu.”

“Pemantiknya! Sekarang!”

“Sooyeon-ah.”

Yuri melepaskan dekapannya, justru dia menaruh kedua tangannya di atas
kedua bahu Jessica dan menatap tajam ke kedua mata milik Jessica.
Jessica merasa seluruh benda di sekitarnya berhenti dan suara-suara
dari jalan utama di kota Seoul juga suara teman-temannya yang bersorak
ikut menghilang. Yuri menatapnya tajam dan Jessica akan kehilangan
seluruh isi dunianya karena itu.

“Dua puluh empat tahun. Kau sudah merokok hingga kau berusia dua puluh
empat tahun. Sampai usiamu harus berapa baru kau berhenti?”

Pertanyaan dari Yuri itu membuat Jessica terdiam. Sudah kurang lebih 5
tahun mereka bersama dan setiap tahunnya di hari yang sama, pertanyaan
Yuri itu selalu membuat Jessica terdiam. Ya, Jessica sudah merokok
sejak Yuri memadu kasih dengannya, mungkin setahun sebelumnya? Dua
tahun sebelumnya? Entahlah. Yang Jelas, mereka selalu bertengkar
setelah Yuri bertanya karena Jessica tak pernah menjawab. Jessica
mengembalikan rokoknya ke dalam dus rokok itu dan melewati Yuri untuk
masuk ke dalam apartemen yang berisi teman-temannya yang masih asyik
pada dunia mereka sendiri.

“Apa kau tidak memikirkan kesehatanmu?”

Jessica masih terdiam dan terus melangkah masuk.

“Apa kau tidak memikirkan masa depanmu?”

“Apa kau tidak memikirkan kesehatan anakmu di masa depan?”

Jessica menghentikan langkahnya terhadap pertanyaan yang baru
didengarnya itu. Rangkaian pertanyaan yang berbeda dari tahun
sebelumnya. Satu pertanyaan yang bisa membuatnya terhenti sebelum
mereka benar-benar bertengkar. Jessica membalikkan badannya dan
melangkah kembali ke balkoni, tepatnya ke hadapan Yuri. Yuri masih
saja menatapnya dengan tatapan yang sama namun dengan pemantik yang
menyala di tangan kirinya.

“Pilihlah hadiahmu, Jung Sooyeon, hadiah pribadi dariku.”

Jessica menatap wajahnya dengan cermat, kemudian beralih pada pemantik
di tangan kirinya, dan kembali lagi kepada wajahnya yang masih
memiliki raut yang sama. Api di pemantik itu masih tetap
menyala-nyala, menunggu pasangan kekasih ini melakukan sesuatu
padanya. Pada akhirnya, api itu pun di hampiri oleh ujung batang rokok
Jessica, sekaligus memberi batang rokok itu api yang menyala-nyala
berwarna merah. Yuri menghela nafas akan jawaban kekasihnya dan hendak
menutup pemantiknya. Tapi itu sebelum Jessica membuang batang rokok
yang baru menyala itu keluar dari balkoninya sekaligus sekotak rokok
di sakunya. Api di pemantik yang dipegangi Yuri masih menyala-nyala
dan Jessica menutup kedua matanya sebelum meniup api itu, seraya
memikirkan sebuah permintaannya.

Fuuuh.

Api itu pun lenyap. Mengeluarkan asap-asap yang mengepul di udara yang
menyimpan satu permintaan Jessica. Yuri tersenyum padanya ketika
matanya kembali terbuka.

“Jadi… Apa yang kau minta?”

Kali ini giliran Jessica yang tersenyum.

“Berlutut di depanku sekarang, dengan cincin di saku jasmu itu. Aku
akan mempunyai anak yang sehat bersamamu.”

Yuri kembali tertawa renyah mendengar permintaan- tidak- perintah dari
kekasihnya itu. Namun, tanpa ragu-ragu, ia segera berlutut di hadapan
Jessica dan mengeluarkan box kecil yang timbul dari saku jasnya,
mungkin Jessica sudah mengetahui keberadaan box kecil ini saat ia
menyimpan pemantik di saku jasnya.

“Aku… Di sini bukan memberi ‘present’ tapi memberi ‘future’ untukmu.
Nikahi aku, Jessica Jung Sooyeon? Lahirkan anak-anak yang sehat
untukku?”

“Jadi kau tidak hanya belajar ‘happy birthday to you’ tapi juga
‘present’ & ‘future’? Dari siapa kau belajar?”

“Ayolah…”

Jessica tertawa geli terhadap eluhan kekasihnya yang mukanya memerah
tanpa sepengetahuannya. Bagaimana tidak? Diejek oleh kekasih di saat
melamar? Tapi setidaknya, jawaban ‘ya’ cukup untuk menutupi candaan
itu.

“Ya, Yuri, aku mau menikahimu dan aku mau melahirkan anak yang sehat
untukmu. Yah, satu anak yang sehat cukup untukmu kan?”

Jessica ikut berlutut dan mendekap Yuri yang masih merasa gugup.
Perlahan-lahan Yuri ikut mendekapnya, akhirnya, dekapan ini selamanya
tidak akan terlepas dari hidupnya. Mereka pun berciuman untuk waktu
yang cukup lama. Dan di saat ciuman itu hendak melangkah ke tindakan
yang lebih intim, mereka melupakan kehadiran orang-orang lain di
apartemen Jessica yang terlelap setelah menjadi mabuk berat.

“Oh, aku benci pesta dadakan.”

“Yul, kau jaga Krystal dan Yoona ya, hari ini hari terakhir promo akhir pekan.”

“Ya…”

Dengan mood hari minggu, Yul menjawab pertanyaan istrinya dengan suara berat bangun tidurnya tanpa memikirkan pertanyaan darinya. Pintu kamar pun terdengar tertutup dengan pelan setelah beberapa langkah dari seseorang menjauhi Yul yang masih berbaring di ranjang. Yul menghela nafas dan terjatuh dalam ketidak sadarannya untuk kembali tidur.

Eommaaa!!!

Ssh Soojung-ah~

DUG

HUWAAAA YUL APPAAAAA

Yul membuka lebar matanya begitu tangisan anak lelaki pertamanya membangunkannya. Tubuh malas hari minggunya ia angkat untuk terduduk kemudian otaknya mulai mengingat dan memikirkan kalimat istrinya pagi tadi.

‘…Jaga Krystal dan Yoona… Promosi akhir pekan…’

Kelopak mata Yul saling menjauhi satu sama lain sejauh yang mereka bisa, saking lebarnya kelopak mata itu terbuka, mungkin kedua bola matanya bisa terlepas keluar. Hari minggu setelah lembur, tanpa jatah semalam dan trik istri untuk membuatnya menjaga kedua anak yang melebihi batas sewajarnya anak-anak. Terutama bocah 7 tahun bernama Kwon Yoong. Ini adalah yang pertama kali dan yang terakhir ia harapkan untuk terjadi seumur hidupnya. Tangisan kencang Yoong dan teriakan Krystal memanggil ibunya masih menguasai kediaman Kwon dan tentu saja sangat cocok untuk menjadi lagu background hari minggu penyiksaan Kwon Yul.

“Oh tuhan… Mengapa aku sangat memaksa istriku untuk memiliki anak 7 tahun yang lalu dan menyesal memiliki anak 7 tahun kemudian…?”

==============================

“Keroro robo kick!”

DUG

“Aish, Kwon Yoong!”

Yul menaruh mangkuk kecil yang berisi bubur instan milik putri kecilnya di kursi tingginya dan menghampiri Yoong yang sedang melakukan aksi rutinnya saat menonton keroro.

“Appa- ah!”

Karena tubuhnya yang jauh lebih kecil dari Yul, dengan mudahnya Yoong terangkat dan terlempar ke atas sofa empuk oleh Yul. Yoong bersiap-siap melindungi dirinya dari serangan ganas Yul dan…

“Ahahaha! Hahaah! Appa! He-hentikan! Hahahaha!!!”

“Hah? Kau ingin digelitiki sampai mengompol? Baiklaaaah.”

“Aaaah!!! Appa! Hahahahaha! Sudah! Sudah! Aku mau pipis! Aaah!!!”

“Hmmm? Apa? Appa tidak bisa mendengar suara dari anak kecil yang belum sikat gigi.”

“Hahahah! Iya! Aku- hahah! Ssss- sikat- aaah!!! Appa!!! Aku mau pipiiiiiis!!!”

Setelah puas dengan serangan gelitikannya, Yul melepaskan putra kecilnya dan membiarkannya berlari menuju kamar mandi. Saat ia kembali menghampiri Soojung, sepertinya Soojung lebih ingin diperhatikan ketimbang kakaknya, karena balita itu dengan polosnya telah memakan, memainkan, melempar dan mengacak-acak sarapannya.

“Appa!”

Soojung memberi Yul senyumannya yang lebar dan pemandangan lantai ruang makan penuh dengan bubur instan yang bertebaran. Entah mengapa, senyum itu membuat Yul hanya bisa membalas dengan senyuman pula, tapi yang jelas bubur yang bertebaran itu tidak akan bersih karena senyuman manis Soojung.

======

Ding-Dong

Bel pintu rumah berbunyi bersamaan saat Yul sedang sibuk membersihkan bubur Soojung yang bertebaran di lantai sekaligus menyuapi Soojung.

“Yoong! Lihat siapa di luar!”

“Ne appa!”

Dengan cukup penasaran, sekali dua kali Yul melirik ke arah pintu rumah mereka dan menunggu tamu yang datang itu masuk. Beberapa saat kemudian, Yoong datang menghampirinya dengan wajah kegirangan.

‘Bisa kutebak…’

“Appa! Tamunya ingin bertemu denganmu! Ayo cepaaat!”

Yoong menarik-narik tangan besar ayahnya untuk mengikutinya ke pintu depan. Yul menatap dengan penuh kecurigaan pada putranya itu seraya mengikutinya keluar dari ruang makan.

“Kwon Yuuuul!”

“Ti-Tippani?!”

Seorang wanita memakai baju serba hitam melompati tangga-tangga kecil dan mendarat tepat di tubuh tegap Yul. Tanpa ragu, Yul menangkap wanita itu dan seketika merasakan tatapan sinis dari arah depan.

“Eeh… Fany-ah, a-ada apa?”

“Taeng dan aku diberi kabar bahwa sahabat kami meninggal dini hari tadi, kami akan menghadiri pemakamannya, tapi kau tau kan kami tidak mungkin membawa Seohyun dan Sulli kami yang manis?”

Tiffany melepaskan pelukannya dari tubuh Yul, begitu Yul melihat Tiffany mengeluarkan air mata, Yul menghapusnya dan memberinya sebuah pelukan dan beberapa tepukan di punggung Tiffany.

“Aku turut sedih, Fany-ah, dan-”

“Intinya, kami ingin kau bersedia untuk menjaga Seohyun dan Sulli sampai kami kembali dari acara pemakaman teman kami.”

Dengan Sulli di lengan kanannya dan Seohyun yang menggenggam tangan kirinya, Taeng menghampiri istri dan temannya dengan tatapan berapi-api. Yul yang menyadari hawa panas dari lelaki di hadapannya langsung melepas wanita yang berpakaian serba hitam dan tersenyum canggung pada mereka.

“O-ooh, ti-tidak masalah taengoo, kau tau aku suka anak kecil! Hahahah! Yoong dan Soojung akan senang ditemani mereka!”

Yul membungkukkan badannya untuk memberi salam pada Seohyun. Sementara pandangan Yul teralih, Tiffany memberi senyuman dan eye-smile dengan makna berbeda pada Taeng. Merasa terkalahkan oleh istrinya, Taeng berkeringat dingin dan seketika tatapan berapinya padam.

“U-uh, Seohyunnie, jaga sikapmu dengan baik ya, dan awasi adikmu Sulli, sore ini appa dan eomma akan kembali ke sini menjemput kalian.”

“Ne appa.”

“Anak baik.”

Taeng tersenyum pada Seohyun dan memberinya kecupan ringan di dahi. Taeng menyerahkan Sulli pada Yul dan Yul menyambutnya dengan lengan kanannya.

“Sulli, eomma dan appa pergi ya, bersikap yang baik pada Yul appa ya?”

“Yah! Aku appa nya!”

“Aku sedang berbicara dengan Sulli, Kim Taeng. Dah sayang~”

Nada dingin dari Tiffany cukup membuat Kim Taeng terdiam kaku. Tiffany memberi kecupan di bibir manis Sulli dan berpamitan pada Yul bersama Taeng.

“Seohyun-ah, ayo masuk, Yoong sudah-”

Tanpa perlu dipanggil setelah membawa Sulli dan Seohyun masuk, Yoong dengan penuh semangat berlari menghampiri gadis kecil setinggi paha Yul.

“Seohyun-aaah~ appa membelikanku figurine robot keroro! Ayo lihat di kamarku.”

“Ne oppa.”

Yul menghela nafas atas sikap anak lelakinya pada putri Taeng yang tertua. Yoong selalu berkata dengan gembiranya pada Yul dan Jessica bahwa dia menyukai Seohyun. Tapi tidak pernah berani mengatakannya pada Seohyun karena dia takut Taeng akan memarahinya jika mendekati putrinya. Yul menurunkan Sulli di dalam area kecil berpagar pendek milik Krystal dan kedua balita itu langsung bermain dengan satu sama lain.

“Kau melakukannya dengan baik Yul, ternyata mengurus anak tidak sesulit memikirkan pekerjaanku.”

Yul hendak menghampiri kursi santai dan mengambil korannya untuk bersantai sebentar ketika…

PRANG

Dengan panik dan kekhawatiran yang penuh, Yul menaiki lantai dua asal suara itu berasal dan langsung menghampiri anak-anak.

“Ada a- AAAAH!!!!! P-poster Daniel Henney milik sica baby!!! D-dan foto Sica baby bersama Josh!!!”

Yul melirik pada putranya yang tersenyum lebar penuh rasa ketakutan dan berkeringat dingin sekujur tubuhnya. Sebelum Yul membalas dendam pada Yoong dengan gelitikannya, Seohyun membungkuk dan menangis pada Yul.

“Yul ahjusshi, aku yang salah, Yoong oppa terpleset saat ingin menunjukan Keroro robo kick padaku da-dan… Huaaaa.”

“Seo-seohyunnie, sssh, aniyo, gwenchana, kalian turun dan bermainlah dengan Sulli dan Soojung, Yul ahjusshi yang akan mengurus ini…”

Seohyun mengangguk pada perintah Yul dan pergi begitu saja dengan Yoong yang masih berwajah pucat, takut-takut sang ayah akan membalas dendam padanya atau bahkan ibunya akan mengamuk ketika ia pulang. Bagaikan mendekat kepada monster besar yang hendak melahapnya, Kwon Yul merasakan hal itu ketika berfikir bagaimana istrinya akan membunuhnya bila ia tau 2 benda berharganya hancur di saat bersamaan.

“Ooh tidak… Aku akan terbunuh dengan digantung terbalik dalam pendingin selamanya…”

HUWAAAA

“Krystal! Aish! Kwon Yoong! Apa yang-”

Seakan tertimpa gedung runtuh sesudah melompat dari gedung itu, tanpa sengaja Yul menginjak pecahan kaca dari frame foto Jessica bersama Josh.

“DEMI MELON JUNG SOOYEON!!!! KAKIKU!!! AAAAH!!!!”

========

“Appa, sakit ya?”

“Makan dan duduk dengan benar, Kwon Yoong… Appa tidak mau terkena bencana lagi…”

Yoong menuruti ayahnya dan kembali duduk di atas kursi makannya untuk makan dengan rapih. Dari sofa di ruang tamu, Yul memperhatikan ke 4 bocah-bocah kecil penyulut keributan makan dengan damainya. Akhirnya pagi yang cukup menyiksanya lenyap sudah, namun dengan perut keroncongan dan kaki yang nyeri, Yul merasa penyiksaannya akan tetap berlanjut. Ketika hendak membuat makan siang, stock bahan makanan yang tersisa hanya spaghetti porsi 2 orang anak kecil dan sekotak bubur bayi instan. Dan saat akan pergi ke mini market terdekat, ia sadar dompet yang menjadi hartanya telah dirampas oleh sang istri untuk berbelanja.

“Lapar…”

DING

Yul membangkitkan tubuhnya setelah mendengar panggilan dari mesin kopinya. Yang ia punya saat ini untuk menunda rasa lapar hanyalah minuman itu. Dengan limbung Yul perlahan berjalan menuju dapur, melewati bocah-bocah kecil yang berpesta makan siang di atas kelaparannya.

“Ahjusshi! Taeng appa bilang padaku saat ia lapar ia tidak boleh minum kopi!”

Seohyun memprotes pada tindakan Yul yang hendak menyeruput minumannya.

“Seohyun-ah, ahjusshi tidak punya pilihan lain, aku sangat lapar~”

Sulli yang berada di dekat Yul dan mendengar percakapan antara kakaknya dan sang paman, merasa penasaran dengan minuman berwarna hitam pekat itu.

“Yul! Sulli mau!”

“Hahaha, tidak bisa Jinri, ini pahit dan appa mu akan mengamukiku bila memberimu sedikit saja.”

Sulli kecil yang benar-benar merasa penasaran mengamuk pada Yul dan menarik-narik ujung kaus Yul untuk memaksa meminta minuman hitam pekat itu.

“Ah! Sulli! Jangan tarik-tarik bajunya! Bahaya!”

Dengan maksud kepahlawanan yang penuh, Yoong melompat dari kursi makannya untuk mencegah Sulli. Di saat yang bersamaan, Krystal dengan tak sengaja menjatuhkan beberapa tetes buburnya tepat di bawah kaki Yoong akan berpijak. Tentunya, Yoong terpleset dan itu akan menjadi kedua kalinya kesialan terjadi pada Kwon Yul karena anaknya yang terpleset. Air panas berwarna hitam pekat dan beraroma wangi mengalir dari gelas Yul dan membawa petaka bagi perutnya yang terbentuk rapih dengan otot.

“Kwon. Yoong. AAAHHHH!!!!”

“A-appa! Akan kuambilkan es!”

“Ya sudah, cepat! Aiiish!!!”

Segera Yul melepas kaus putih miliknya yang ketumpahan air kopi panas dan meniup-niup perutnya yang terasa pedih karena panasnya air. Dengan terpincang-pincang Yul menarik kursi makan dan terduduk di atasnya. Tak lama Yoong menghampirinya dengan plastik bening berisi sebongkahan es, Yul mengambilnya dari Yoong dan menempelkannya tepat di atas bagian perutnya yang memerah.

“Aigoo, kenapa aku memakai kaus putih? Sica baby akan memarahiku kalau nodanya tidak bisa hilang…”

Dengan tangannya yang lain, Yul mengangkat kaus yang ketumpahan kopi. Saat menyadarai corak dari kausnya, mata Yul kembali terbuka lebar dan tangannya yang memegang bongkahan es ia lepas untuk merentangkan kausnya dengan kedua tangannya.

“Tunggu dulu… Kaus ini… Pemberian sica baby sewaktu ulang tahun pernikahan kami…”

Tanpa menunggu lagi, Yul yang masih terpincang-pincang buru-buru menghampiri mesin cuci mereka. Di saat yang bersamaan, bel pintu rumah mereka kembali berbunyi.

“Aish! Kwon Yoong! Sambut tamunya!”

“Baik, appa!”

Dalam mode sangat panik, Yul mencari-cari penghilang noda dan setelah menemukannya, buru-buru ia menuangkan cairan itu dan-

“KWOOOON YUUUUUUL!!!”

DUG

Glek.

“Oops…”

============

“Yul appa!”

Krystal yang manis dan lugu sedang duduk di atas dada bidang dan terbentuk milik Kwon Yul yang terkulai lemas di atas sofa. Akibat sahabat dan putranya, Choi Sooyoung & Kwon Yoong yang berhasil menggantikan acara minum kopinya menjadi acara minum cairan penghilang noda, semua makanan yang tersisa dalam lambungnya punah. Tak hanya sekali dua kali perutnya meneriakkan kelaparan dan setiap teriakkan yang keluar, Krystal akan tertawa geli dan memukul-mukul perut Yul tepat di atas bagian yang ketumpahan kopi.

“Yah, Choi Sooyoung… Seandainya kau tidak punya anak semanis Choi Kyungsan, aku pasti tidak akan berfikir 2 kali untuk membunuhmu…”

Sooyoung yang sedang mengunyah menjawab Yul tanpa menelan makanannya dulu.

“Boh, dhia mmemmang mehngambhil bhanyhak dhariku”

Karena tepat berada di depan Yul, makanan yang sooyoung kunyah berpindah ke wajah Yul sebagian.

“Aiish! Yah! Telan dulu makananmu, Choi Shikshin! Dan lagi… MAKANAN?!”

Yul menurunkan Krystal dari tubuhnya dan otomatis menatap penuh harap pada Sooyoung.

“Ya, makanan, memang apalagi? Sunny bunny ku yang manis dan imut dengan setulus ikhlasnya memasak makanan ini untukmu.”

“Dan kau memakannya.”

“Aku yakin kau belum rabun.”

“Sempurna.”

“Aku memang sempurna~”

“-_- lupakan, kenapa kalian kemari?”

“Maksudmu aku dan Kyungsan? Sunny mengusir kami karena dia bilang dia harus membersihkan rumah, bukankah dia istri yang baik?”

Yul memutarkan bola matanya dan menghela nafasnya.

“Rasanya aku bisa mengerti mengapa sulit untuk membersihkan rumah ketika suami shikshinmu terus memintamu memasak.”

Sooyoung tidak menghiraukannya dan dengan lahapnya kembali memakan masakan yang seharusnya sudah ada dalam perut temannya yang kelaparan. Dikarenakan harapan mendapatkan sumber energi sudah tak lagi bisa ditemui, Yul memutuskan untuk memejamkan matanya saja dan tidur. Walau pun Sooyoung telah menguras habis seluruh energinya, setidaknya dia membawa Kyungsan yang bisa menghentikan Kwon Yoong mengganggunya.

“Kyungsaaan! Akan kubalaskan dendamku!!!”

Seakan membaca pikirannya, Yoong tiba-tiba berteriak dan terdengar langkah kakinya berlari mendekat.

“Andwaeee!”

Kyungsan berteriak dengan gembiranya sambil berlari di depan Yoong yang membawa serta pedang plastik kesayangannya.

“Hiaaat!”

BRUG

BRUG

DUG

“AISH! Yah! Kwon Yoong! Hati-hati dengan pedangmu!”

Baru saja ketika ia berfikir mendapat waktu santai sejenak, Kwon Yoong langsung menghancurkannya. Karena trauma dengan semua bencana yang dilakukan anaknya, kali ini Yul berniat mengambil tindakan sebelum Yoong sukses melakukannya. Dia membangunkan tubuh tegapnya dan turun dari sofanya. Karena terfokus pada Yoong, Krystal yang berada di depan kakinya luput dari penglihatannya dan…

“Aaah! Appa! Di depanmu ada Krystal!”

JLEB

Yoong yang kembali berniat menjadi pahlawan penyelamat, mengalahkan monster yang kelaparan bernama Kwon Yul dengan satu tusukan tanpa sengaja di…

“Ow.”

Sooyoung merapatkan kaki-kakinya, seakan merasakan betapa besar sakit yang dirasakan Kwon Yul sebagai sesama lelaki.

============

“Yoonggie~ baby Soojung~ mommy’s home!”

“Eommaaa!”

Jessica memasuki rumah mereka dan tersenyum ketika disambut oleh putri kecilnya yang manis.

“Aigoo~ did you miss mommy, Soojunggie?”

Segera ia mengangkat putrinya itu dan sedikit bermain-main dengannya sambil berjalan menuju ruang tamu.

“Eomma! Eomma beli sesuatu untuk Yoong?”

Yoong buru-buru menghampiri ibunya dengan senyuman alligatornya yang lebar. Jessica tak pernah sekali pun tak menyukai senyuman putranya yang membuatnya ikut tersenyum itu. Walau pun di baliknya, Yoong hanya berusaha bersikap seperti itu agar perhatian sang ibu teralih dari yang ia harapkan tidak disadari.

“Ne, tapi eomma tidak sanggup mengangkatnya dari bagasi mobil, dimana appamu, Yoong?”

Rupanya upaya Yoong gagal tapi ia tidak akan menyerah dan mengganti topik pembicaraan mereka.

“Eo-eomma! Tadi Sulli, Seohyun dan Kyungsan datang bermain! Kami main perang-perangan!”

“Oh ya? Kalian senang sekali bermain itu, tapi, dimana appamu Yoong?”

Biarpun sudah mengalihkan pembicaraannya, sepertinya Jessica tetap ingin tau dimana sang ayah dari Kwon Yoong. Yoong tetap berdiri di hadapan ibunya sambil memikirkan alasan yang baik.

“Appa- uh-”

“S- sica baby…”

Yoong tertegun mendengar sang ayah akhirnya sanggup berkata. Jessica langsung menoleh kepada suara suaminya yang terdengar tersiksa. Di sana Kwon Yul terbaring dengan bertelanjang dada di atas lantai dalam posisi tengkurap bagai mayat yang terbengkalai.

“Y-yah, Kwon Yul, apa yang terjadi? Kenapa kau berbaring dan bertelanjang dada seperti itu?”

Selagi perhatian Jessica teralih, Yoong yang takut pada apa yang akan terjadi padanya jika dia menetap, langsung berlari dan bersembunyi ke kamarnya.

“Se-selangkangan… Private areaku…”

“Ha-hah?! Yah! Apa-apaan kau tiba-tiba mengatakan hal itu?!”

Jessica merasakan seluruh bagian dari wajahnya memerah dan pandangannya pun otomatis beralih. Ketika ia menatap meja di hadapannya, ia melihat benda yang familiar dengannya terlihat hancur berantakan.

“Yah, apa ini… … Kwon Yul?”

“A-apa?! Tidak! Bukan! I-itu! Yoong yang…”

“Katakan apalagi yang kau rusak? Sudah tidak mau mengakui, dan kau menyalahkan anakmu.”

Jessica dengan mode nerakanya semakin mendekati Yul dan Yul melakukan sebaliknya.

“Kumohon! Dengar dulu penjelasan-”

“Apalagi yang kau rusak?!”

“P-poster Daniel henney dan kaus pemberianmu di hari ulang tahun pernikahan kita! …oh tidak…”

“Begitu rupanya.”

Malam ini pun, penderitaan masih enggan luput dari hari terberat, termalang, tersedih dan ter…

“AAAAAAAAAAHHHH.”

“Aku bersumpah jika kau mengulanginya, maka kau tak akan mendapatkan jatahmu selamanya!”

…Berkat Jessica Jung Sooyeon, yang tau persis apa yang paling tidak diharapkan oleh seorang Kwon Yul, sempurna sudah hari paling menyiksa di seumur hidupnya.

 

 

Yoona’s POV

 

Setelah melakukan pengecekan beberapa kali, dokter mengatakan aku sudah sehat dan sudah benar-benar bisa beraktivitas seperti dulu. Aku senang semua masalah ini berakhir, suatu masalah pasti ada akhirnya dan aku senang mendapat akhir yang sangat baik. Tapi seselesainya masalah itu, aku pasti akan mendapat masalah lagi, masalah paling berat. Sekolah.

“Ehhh aku harus mengulang kelas satu lagi sementara Yuri eonnie kelas dua?”

“Tidak ada pilihan lain Yoong, kamu mulai koma saat belum mulai semester dua, jadi tidak ada jalan untuk kamu melompat ke kelas dua.”

“Sudahlah Yoong, gak rugi juga kok mengulang, kamu pasti jadi murid paling piiintar di kelas karena mengulang.”

Yuri eonnie tersenyum girang padaku, dia selalu senang kalau adiknya ini sial. Akan kujahili dia nanti.

“Ya sudah kalian sana sekarang berangkat, nanti terlambat.”

Eomma mendorong-dorong punggung kami ke arah pintu.

“Eonnie, aku numpang motor ya-”

Baru aku mau mengambil helm di rak sebelah pintu, helm itu sudah di sambar oleh Yuri eonnie. Dia menyeringai lagi.

“Eits, di motorku jok belakangnya sudah ada penumpang tetap, beli motor sendiri ya~ dah~”

Dengan itu dia melesat keluar rumah membawa helm berwarna pink itu.

“Eh! Eonnie curang! …pasti pacarnya.”

Sejak punya pacar aku jadi sedikit lebih renggang dari Yuri eonnie, padahal dulu julukan kami kembar tempel, ke mana-mana selalu berdua.

“Eomma, lihat tuh eonnie, pelit banget.”

“Biarkanlah Yoong, yang penting dia senang, pacarnya cantik lho, dia anak teman SMA eomma dulu. Kamu pasti terpana kalau lihat wajahnya.”

“Teman SMA eomma? Kayaknya kalau begitu aku gak akan pernah dapat jok belakang motor eonnie deh, bisa-bisa awet mereka…”

“Eh, kok ngomongnya begitu, seharusnya kamu senang dong, ayo kamu berangkat naik mobil eomma saja.”

 

 

“Namaku Kwon Yoona, senang bertemu kalian semua.”

Ha~h perkenalan lagi, kelas satu lagi, ah sudahlah. Aku menunduk dan tersenyum paling manis setelahnya supaya kesanku baik.

“Baiklah, Yoona, silahkan kamu duduk di sebelah… ketua kelas ya.”

Pak guru menunjukan kursi kosong di sebelah seseorang yang sepertinya terfokus sekali padaku, ah mungkin sedang melamun. Aku pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Halo, aku Kwon Yoona, mohon bantuannya.”

Aku menyodorkan tangan kananku padanya, dia menyambutnya dan tersenyum padaku.

“Seo Joohyun, aku ketua kelas di sini, jadi membantumu adalah tugasku.”

“Terima kasih Joohyun.”

“Panggil saja Seohyun.”

“Baiklah, Seohyun.”

Haduh, pelajarannya bikin bosan, rasanya tidak enak mengulang pelajaran yang sudah aku tau. Tapi setidaknya jadi anak baru begini, sebagai sasaran empuk ada untungnya mengulang, jadi aku tidak perlu grogi sewaktu menjawab. Aku melirik seisi kelas, ada yang ngupil =_= aduh baru lirik sedikit sudah keliatan yang ngupil, berhenti saja deh. Sewaktu aku tidak sengaja melirik Seohyun, dia memperhatikan pelajarannya kayak lagi nonton AV… Eh film action, sama sekali gak bergeming. Tapi kalau di lihat-lihat, Seohyun yang sedang fokus begini, wajahnya cantik sekali… Entah kenapa kalau menatapnya begini kok aku jadi deg-degan ya? Tapi, perasaan deg-degan ini aku rasakan karena aku seperti lama tidak bertemu dengannya. Apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?

“Seohyun-ssi, nanti kamu tolong bantu Yoona berkeliling ya? Sekalian beri dia info tentang klub di sekitar sekolah.”

“Baik pak.”

Akhirnya pelajaran selesai, setelah ini keliling sekolah ya, aduh malas, tapi aku harus masuk klub baseball! Yuri eonnie masuk klub itu, seenggaknya di sekolah aku ingin satu kegiatan dengannya.

“Yoona-ssi, mau berkeliling sekolah sekarang?”

“Eh, boleh, nanti bisa gak bantu aku mendaftar klub baseball?”

“Ya, ya bisa, kebetulan aku anggotanya, nanti aku antarkan kamu ke ketuanya.”

Jadi dia juga klub baseball toh, eh tapi kok gak nyambung? Murid yang pintar di akademis sepertinya kenapa masuk klub baseball?

 

 

Sepulang sekolah, Seohyun mengantarku ke lantai kelas 2, begitu masuk ke kelas si ketua klub, aku melihat Yuri eonnie sedang menempel dengan seseorang.

“Ah! Eonnie!”

Yuri eonnie, Seohyun dan beberapa orang lainnya jadi menoleh padaku.

“Lho, Yoona sama Seohyun kok kamu ada di sini?”

“Yoona bilang dia mau mendaftar di klub baseball, eonnie.”

Selesai Seohyun menjelaskan, seseorang menghampiri dan menggaet bahuku.

“Bagus! Selamat datang di klub baseball! Kamu adik Yuri kan? Aku Choi Sooyoung, ketua klubnya!”

Aduh orang ini nyekeknya gak kira-kira, aku sesak nafas.

“Yah, choi sooyoung, nanti dia koma lagi gara-gara kamu cekik.”

Yuri eonnie menghampiriku bersama orang yang tidak salah lagi pacarnya, yang kutatap pertama tentu saja pacarnya. Tapi begitu agak lama melihatnya, kurasa aku setuju dengan eomma. Pacar eonnie cantik, rambutnya coklat halus  bergelombang dan panjang, tubuhnya kecil tapi berbentuk, kulitnya juga putih dan sepertinya halus sekali.

“Jadi kamu Yoona? Kamu beda sekali dengan sewaktu koma, seperti tidak ada nyawanya. Aku Jessica Jung.”

“Ini lho, yang jadi penumpang tetap motorku, Yoong~ pacarku yang manis ini.”

“Yah,memangnya kau pikir aku akan bangga jadi penumpang motor bututmu?”

Wajahnya dingin, tapi kalau sedang memerah begitu jadi manis. Yuri eonnie tidak salah pilih, yah sudahlah, sebaiknya aku restui saja mereka. Dari belakangku, aku mendengar langkah seseorang mendekatiku, aku yang masih berada di depan pintu pun menyingkir memberi jalan.

“Sooyoung-ah, ayo ke lapangan, sudah waktunya.”

Entah kenapa suara seseorang yang asing tapi familiar ini sampai ke kepalaku, begitu aku menengok rasanya mengantuk sekali.

“Fany-ah!”

“Ya? Eh, siapa ya?”

 

 

Normal POV

 

 

Taeyeon langsung tersadar dan menggantikan Yoona begitu mendengar suara Tiffany. Tanpa sadar dia memanggil namanya, dan hampir-hampir memeluknya sebelum Yuri menariknya dari belakang.

“Taeyeon, jangan lupa kamu di dalam tubuh Yoona!”

Yuri berbisik di telinganya. Taeyeon tersentak mengingat ini bukan tubuhnya, hampir saja dia melakukan hal bodoh. Dia kembali tertidur dan tergantikan lagi oleh Yoona. Karena Yuri setengah badannya bersender pada Yoona dan Yoona terlimbung akibat pergantian tadi, mereka terjatuh.

“YAH! Yuri! Yoona! Kalian ngapain?!”

Sooyoung menegur Yuri yang tidak sengaja menindih tubuh Yoona dan bibir mereka menempel. Seohyun  refleks menutup wajahnya yang memerah, Jessica shock keheranan dan Tiffany dagunya terjatuh ke lantai.

“IIIH!!!! EONNIE NGAPAIN?! Aaargh!!! Ciuman pertamaku! Bibirku di perawanin kakakku!!!”

Yoona mendorong Yuri menyingkir dari tubuhnya, dia langsung berlari keluar kelas mencari kamar mandi. Tak lama dia kembali lagi ke kelas itu.

“Seohyun! Toilet di mana?!”

“O-oh… aku antar!”

Seohyun mukanya masih memerah ketika menghampiri Yoona. Sementara Yuri masih di TKP dalam keadaan sangat shock.

“Y-yah, Fany-ah, a-ayo ke lapangan, sepertinya Sunny dan Hyo sudah menunggu.”

Tiffany mengangguk saja pada ajakan Sooyoung dan mereka berdua pun berlari meninggalkan Yuri dan Jessica.                 Jessica masih saja berdiri di depan Yuri yang berlutut dengan muka pucat pasi ala komik. Tak lama, Jessica berjalan melalui Yuri yang masih shock.

“Si-sica baby! Tunggu aku! Aku gak mungkin bermaksud begitu!”

 

 

Yoona’s POV

 

 

“…………”

“Yoona-ssi….”

“Yoona saja.”

“Ah, baiklah.”

Aku menghela nafas panjang sambil masih menatap lurus pada tanah jauh berada di bawahku. Saat ini aku dan Seohyun sedang berada di atap gedung sekolah, setelah insiden tadi dan pencucian muka berkali-kali di toilet, aku meminta Seohyun mengantarku ke sini.

“Sepertinya ada yang salah dengan tubuhku…”

“Ya?”

Sewaktu di kelas Yuri eonnie tadi rasanya sama seperti pagi setelah aku sadar, aku merasa terbangun, dan kembali terlelap setelah aku turun dari ranjang. Tapi… sewaktu aku terjaga, aku sudah berada di kamar Yuri eonnie dan terbaring di atasnya. Apa mungkin aku tidur sambil berjalan? Apa ini efek setelah koma? Aku tidak mengerti…

“Apa yang kau rasakan? Apa jangan-jangan ini efek dari komamu? Mungkin kau belum sembuh benar…”

“Tidak, dokter bilang aku sudah sembuh total, hanya saja…”

Aku menoleh pada Seohyun, dan perasaan itu tetap ada sama seperti sewaktu aku menatapnya di kelas. Apa benar aku pernah bertemu dengan Seohyun sebelumnya? Rasanya tidak tapi… Ah, aku mengantuk lagi…

“Yoona!”

Lagi-lagi begini, sebenarnya ada apa dengan tubuhku? Apa benar ini efek dari koma yang aku alami? Aku memejamkan mataku dan membukanya kembali, saat kesadaranku benar-benar kembali, aku merasakan sanggaan dari sekitar pinggangku. Keringat bercucuran di seluruh tubuhku dan Seohyun menghapus beberapa dari wajahku.

“Seohyun, aku tidak apa-apa, lepas-”

“Aku akan menghubungi Yuri eonnie, bertahanlah.”

Seohyun mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya dengan tangannya yang lain dan aku menahannya sebelum dia sempat menelfon Yuri eonnie.

“Kumohon, aku sudah cukup dikhawatirkan, aku hanya mengantuk, mungkin ini efek karena aku terbiasa tertidur panjang.”

Aku berhasil meloloskan diri dari sanggaan Seohyun dan bersandar di pagar pembatas kemudian membiarkan tubuhku terduduk di atas lantai. Aku tau, saat ini Seohyun pasti menatapku dengan tatapan khawatir, tapi saat ini aku sangat tidak ingin dikhawatirkan. Sejak aku terbangun kembali, eomma dan Yuri eonnie selalu menatapku dengan tatapan itu. Aku tidak butuh kekhawatiran kalian, aku hanya ingin diperlakukan seperti biasa.

“Aku akan-”

“Air, kalau kau benar-benar khawatir padaku, aku butuh air.”

 

 

 

Seohyun duduk di sebelahku sambil menatap awan sore yang sudah berganti warna. Di antara kami ada 2 botol minuman isotonik dan 2 tangan dari orang yang berbeda. Suara-suara orang-orang yang beraktivitas dengan klubnya masih terdengar di telingaku. Sekali dua kali aku mendengar suara benturan antara tongkat besi dan sebuah bola.

“Kau tidak latihan, Seohyun?”

Aku menatap pada Seohyun dan dia menoleh padaku.

“Aku tidak bisa meninggalkanmu, Yoona-ssi.”

“Sudah kubilang, Yoona saja, aku tidak apa, pergilah latihan, nanti aku akan menyusul kesana.”

Seohyun tetap tidak menurutiku dengan menggelengkan kepalanya dan menetap di sebelahku.

“Kau apa-apa, aku yang saat ini berada dekat denganmu, jadi aku harus bertanggung jawab untuk mengawasimu.”

“Aiish baiklah.”

Aku tidak menyangka rupanya dia cukup keras kepala. Tapi setelah aku meliriknya kembali, dia terlihat sedikit gelisah begitu mendengar suara benturan antara bola dan tongkat lagi.

“Pergilah kalau kau benar-benar ingin latihan, Seohyun.”

“Aku tidak bisa meninggalkanmu.”

“Tapi kau gelisah begitu.”

“Aku tetap tidak bisa meninggalkanmu, kita tidak tau mungkin saja terjadi sesuatu padamu saat aku pergi meninggalkanmu sendiri di sini.”

Baik, dia cukup keras kepala dan logis. Aku mengatakan aku baik-baik saja tapi aku juga tidak yakin setelah ini aku akan merasa tiba-tiba mengantuk lagi atau tidak.

“Tapi-”

 

TANG

 

“MAKAN MALAM GRATIIISS!!! Maksudku, HOME RUUUUUN!”

Suara itu sangat kencang sehingga aku dan Seohyun pun serentak menoleh pada sumber suara itu tepat di belakang kami. Rupanya sedari tadi kami membelakangi lapangan baseball. Dari lantai atap aku bisa melihat Yuri eonnie yang berlutut terlihat pasrah dan ketua klub baseball yang mencekikku tadi memberi V-sign pada kami. Pandangan kami beralih pada suara benda terjatuh tepat di depan kami. Astaga, sekuat apa ketua klub baseball?

“SEOHYUN-AAAH!!! KWON YOONAAAA!!! KALIAN TERTANGKAP MEMBOLOS LATIHAAAN!!!”

Aish.

“DAN, BERIKAN BOLA ITU PADA KAMIIII!!!”

Aish. Aku merayap mendekat pada bola baseball yang mendarat tepat di depan kami, tanpa kusadari, Seohyun juga merayap mendekati bola itu dan kepala kami berbenturan.

“Ah!”

“Aduh!”

“YAAAAH!!! AKU MEMINTA KALIAN MENGEMBALIKAN BOLA BUKAN BERCIUMAN.”

AISH!!!!